RSS

Ibrah Do’a Dalam Surat Al-Fatihah

09 Okt

Oleh : Deden Abu Wafä S.Si, S.Pd

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya serta ummatnya yang istiqomah meniti jalannya hingga akhir zaman.

Salah satu keistimewaan dan kekhususan dari surat Al-Fatihah ialah merupakan surat yang wajib di baca ketika shalat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidak sah sholat seseorang jika tidak membaca surat Al-Fatihah”. Oleh karenanya surat Al-Fatihah juga dinamakan sebagai As-Sab’ul Matsaani yang artinya tujuh ayat yang diulang-ulang (dalam shalat). Kemudian surat Al-Fatihah manakala dibaca dalam sholat juga merupakan sebuah bentuk dialog dan percakapan antara seorang hamba dengan Allah ‘azza wa jalla. Dalam sebuah haditsnya pula yang diriwayatkan oleh imam Muslim Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang ini merupakan hadits qudsi, yaitu ketika Allah berfirman “Aku membagi sholat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, sebagian untukKu dan sebagian untuk hambaKu, dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin” (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) Allah menjawab (seraya berkata): HambaKu telah memujiKu. Ketika seorang hamba mengatakan “Arrahmaanirrahiim” (Yang maha pemurah lagi maha penyayang), Allah menjawab (seraya berkata) : HambaKu telah menyanjungKu. Ketika seorang hamba mengatakan “Maalikiyaumiddiin” (yang merajai hari pembalasan) Allah menjawab seraya berkata : HambaKu telah mengagungkanKu. Ketika seorang hamba mengatakan “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan) Allah menjawab (seraya berkata) : Ini adalah bagianKu dan bagian hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang ia minta. Ketika seorang hamba mengatakan “Ihdinashshiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alayhim ghoiril maghdhuubi ‘alayhim waladhdhoolliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan (jalannya) orang-orang yang Kau murkai dan bukan pula (jalannya) orang-orang yang tersesat) Allah menjawab seraya berkata : Ini adalah untuk hambaKu dan baginya apa yang ia minta”. Manakala kita perhatikan hadits ini, terdapat satu faedah yang cukup penting untuk kita ambil sebagai ‘ibrah (pelajaran), yaitu mengajarkan kepada kita mengenai cara berdo’a sekaligus isi do’a yang kita senantiasa panjatkan dalam sholat kita.

Terminologi shalat manakala ditinjau secara etimologi memiliki makna “do’a”, sehingga dalam shalat yang kita kerjakan terdapat tempat-tempat yang berisi do’a atau anjuran untuk berdo’a, seperti ketika duduk antara dua sujud, ketika sujud atau setelah memabaca tasyahud akhir sebelum salam. Salah satu tempat yang kita berdoa di dalamnya ialah di penghujung surat Al-Fatihah yang kita baca.

Jika kita perhatikan lebih seksama, mulai ayat pertama hingga ayat keempat, ayat-ayat Al-Fatihah yang kita baca berisi pujian, sanjungan dan pengagungan kepada Allah ‘azza wajalla. Kemudian ketika kita membaca “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan) Allah menjawab dengan mengatakan “Ini adalah bagianKu dan bagian hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang ia minta”. Pada penggalan pertama ayat ini merupakan hak atau bagian untuk Allah yaitu ketika seorang hamba berikrar bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang ia sembah dan ia ibadahi, kemudian pada penggalan kedua ini merupakan hak hamba yang menyatakan bahwa permohonan pertolongan juga hanya dipanjatkan kepada Allah semata, dan Allah menegaskan bahwa bagi hambaNya ialah sesuai apa yang ia permohonkan.

Pelajaran pertama yang dapat kita sarikan ialah mengenai adab berdo’a. Yaitu hendaknya seorang hamba memulai do’anya dengan lantunan puja-puji, sanjungan serta pengagungan kepada Allah ‘azza wajalla. Semakin seorang hamba pandai dalam melantunkan pujian kepada Allah ‘azza wajalla, ini merupakan salah satu faktor yang akan memperkuat do’anya di sisi Allah tabaaraka wa ta’ala. Ketahuilah bahwa Allah cinta pada pujian-pujian yang disanjungkan kepadaNya, oleh karenanya jika kita perhatikan do’a-do’a yang dipanjatkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kebanyakan senantiasa mengkombinasikan antara pujian pada Allah dan permohonannya.

Kemudian setelahnya kita melafadzkan pujian-pujian pada Allah ‘azza wa jalla, kita memohon pada Allah agar ditunjukkan pada jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat atas mereka. Bukan jalannya golongan manusia yang dimurkai dan bukan pula jalan golongannya orang-orang yang tersesat. Ayat ini merupakan salah satu contoh ayat yang bagus tentang salah satu kaidah dalam ilmu tafsir yaitu menafsirkan satu ayat dengan ayat yang lainnya. Disini kita bisa melihat bahwa kita mohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus, akan dimungkinkan timbul pertanyaan “jalan yang lurus itu seperti apa?” pertanyaan ini dijawab dalam lafadz berikutnya yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat atas mereka. Akan timbul pertanyaan lagi “jalannya orang-orang yang diberi nikmat itu jalannya siapa ?” pertanyaan ini dijelaskan langsung sendiri oleh Allah dalam ayat lainnya yang Allah sebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 69 yaitu ketika Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman “barangsiapa yang taat pada Allah dan RasulNya maka mereka itulah bersama-sama dengan orang-orang yang telah diberi nikmat atas mereka, daripada golongannya para nabi, shiddiiqiin, syuhada dan orang-orang sholih  dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. Ayat yang mulia ini memberikan penjelasan kepada kita tentang golongan manusia yang Allah telah anugerahkan nikmatNya. Sehingga ketika kita berdoa dalam surat Al-Fatihah tersebut kita mohon kepada Allah agar diberikan kemuliaan digolongkan dalam kedudukannya para nabi, shiddiqiin, para syuhada (orang yang mati syahid) dan para shalihiin (orang-orang shalih). Kemudian ayat tersebut juga menjelaskan kepada kita cara menggapai kedudukan tersebut yaitu dengan taat dan patuh pada Allah dan RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Taat pada Al-Quran dan petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya yang shahih dan mutawatir. Dan selama-lamanya hal ini akan senantiasa berjalan beriringan antara ketaatan pada Allah dan Rasulnya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Allah sendiri menegaskan dalam Al-Quran bahwa ketaatan padaNya seukuran dengan ketaatan pada RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hal ini dapat kita lihat dalam firmanNya “Barangsiapa menaati Rasul maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara atas mereka” (QS. An-Nisaa: 80). Segala yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kabarkan kepada kita melalui hadits-haditsnya yang sah dari perintah, larangan atau khabar-khabar ghaib di masa yang akan datang wajib untuk kita terima dan benarkan meskipun tidak tersebutkan dalam Al-Quranul kariim. Dikarenakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah diberi wahyu oleh Allah yang semisal Al-Quran yaitu hadits, sehingga hakikat perintah atau larangan yang dikemukakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah juga perintah dan larangan dari Allah Rabbul ‘aalamiin. Dalam Al-Quran Allah berfirman “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-A’raaf: 157).

Kemudian dalam untaian do’a berikutnya dalam surat Al-Fatihah kita juga memohon agar dihindarkan dan diselamatkan dari jalannya dua golongan yaitu golongan orang-orang yang dimurkai dan golongan orang-orang yang tersesat. Siapakah golongan yang dimurkai dan golongan tersesat tersebut ? Golongan yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi, mereka secara khusus telah dimurkai dan dilaknat Allah, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla “Yaitu orang yang dilaknat dan dimurkai Allah” (QS. Al-Maidah: 60), adapun golongan orang-orang yang tersesat adalah kaum Nashrani, sebagaimana firman Allah pula “Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” (QS. Al-Maidah: 77). Penafsiran ini juga dikuatkan oleh pernyataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya “Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu ialah Yahudi dan orang-orang yang sesat itu ialah Nashara” (H.R.Tirmidzi). Syaikhul Islam menjelaskan bahwa disematkannya Yahudi dengan kemurkaan disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka ketahui. Mereka enggan mengikuti kebenaran yang telah jelas di hadapan mereka secara perkataan maupun perbuatan. Sedangkan tersesatnya kaum Nashrani dikarenakan mereka beramal tanpa diiringi dengan ilmu. Mereka giat dan rajin ibadah namun tanpa adanya dasar perintah yang mensyari’atkannya. Oleh karena itu Sufyan bin ‘Uyaynah rahimahullaah mengatakan “Ulama kita yang rusak serupa dengan Yahudi, sedangkan ahli ibadah kita yang rusak serupa dengan Nashrani”

Semoga kita semua senantiasa ditunjukkanNya kepada jalanNya yang lurus serta diberikan kekuatan untuk menitinya dan istiqomah di atasnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan sahabatnya.

Daftar Pustaka

 

Abdat, Abdul Hakim bin Amir. 2007. AlMasaa-il jilid 8. Jakarta. Daarus Sunnah

 

Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad. 2008. Tafsir Ibnu Katsir jilid 1. Bogor. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

 

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2000. Sifat Shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Yogyakarta. Media Hidayah

 

Farid, Ahmad. 1998. Tazkiyatun Nufuus. Iskandariyah. Darul ‘Aqidah litturaats.

 

* Penulis adalah pendidik di SDI Assalam, Malang

 

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Oktober 9, 2011 in Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh

 

Komentar telah ditutup

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.