RSS

MARHABAN YA ROMADHON

09 Okt

Drs. Moh. Fauzan Antoni

Selamat datang Romadhon, bulan pencuci segala dosa dan maksiat. Itulah ungkapan yang diucapkan  oleh Rosululloh Saw. saat menyambut kedatangan bulan suci Romadhon yang penuh dengan rahmat, ampunan dan pembebasan dari siksa api neraka. Sehingga para sahabat bertanya : ‘’Siapakah yang mensucikan itu ya Rosululloh ?’’ Lalu Beliau menjawab :

اَلْمُطَهِّرُ شَهْرُ رَمَضَانَ يُطَهِّرُنَا مِنَ الذُّنُوْبِ وَالْمَعَاصِى.

“Yang mensucikan itu adalah bulan Romadhon, ia mensucikan kita dari segala dosa dan maksiat.’’

 

Nabi Saw. Juga bersabda :

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. رواه إبن خزيمة

“Dan bulan Romadhon itu permulaannya (membawa) rohmat, pertengahannya (memberikan) ampunan dan akhirnya (merupakan) pembebesan dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

 

Rupanya kegembiraan dan ketulusan hati ummat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci Romadhon sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. tetap terasa sampai sekarang.

 

Allah SWT. telah memilih bulan Romadhon sebagai bulan puasa, dan sudah menjadi tradisi keagamaan kita, begitu Romadhon tiba segera tampak syi’ar Islam dan kesemarakan ibadah di mana-mana.

 

Penyambutan dan ungkapan rasa syukur itu biasanya diawali dengan bergantinya suasana dan gerak kehidupan ummat dari rutinatas menjadi kegiatan-kegiatan yang menampilkan nilai-nilai agama. Kesibukan-kesibukan mengarah kepada pengamalan agama untuk mendukung kesempurnaan ibadah puasa. Di masjid-masjid, musholla-musholla, kantor-kantor pemerintahan,  perusahaan-perusahaan dan lainnya  diselenggarakan sholat tarowih, ceramah agama serta beraneka ragam kegiatan sosial keagamaan.

 

Yang jelas menyambut kedatangan Romadhon itu penting, sebab disamping dapat dijadikan indikator kuat atau lemahnya iman seorang, juga karena bulan suci Romadhon itu di dalamnya diturunkan petunjuk Allah yaitu Al-Qur’an. Turunnya wahyu itu patut disambut dan dirayakan dengan kegiatan-kegiatan yang sesuai, yaitu dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjalankan puasa Romadhon agar hati dan jiwa seseorang dapat dengan mudah menerima petunjuk-petunjuk Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, agar selamat di dunia dan di akhirat.

 

Dalam tradisi penyambutan ini minimal ada empat persiapan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim sebagai manifestasi kegembiraan dan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah mengaruniakan umur panjang serta mempertemukan kembali dengan Romadhon dan Lailatul Qadar :

 

  1. Persiapan ilmu. Yaitu mempelajari dan mendalami pengetahuan yang berkaitan dengan puasa serta mengajarkannya kepada orang lain, terutama anak-anak dan anggota keluarga. Misalnya tentang syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, sunnah dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.

 

  1. Persiapan fisik. Yaitu dengan menjaga kesehatan, termasuk ke dalam persiapan fisik ini adalah menyiapkan bekal material dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan di bulan Romadhon, juga tempat-tempat ibadah dibersihkan dan dibuat sebaik-baiknya agar suasana ibadah nyaman, sejuk serta tenang sehingga tercapai kekhusyukan.

 

  1. Persiapan rohani. Yaitu mengobarkan semangat supaya benar-benar siap untuk menjalankan dan mnyempurnakan puasa berikut amaliah-amaliah Romadhon lainnya. Kesiapan mental ini tentu harus dibarengi dengan sikap penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah SWT.

 

  1. Persiapan niat. Yaitu begitu masuk awal Romadhon seseorang harus memantapkan niat yang tulus karena Allah SWT. Untuk melaksakan ibadah puasa sebulan penuh. Namun demikian tiap-tiap malam Romadhon dari malam pertama hingga malam terakhir, niat itu dinyatakan kembali guna memenuhi rukun puasa.

 

Persiapan fisik material dan mental spiritual yang dilakukan oleh ummat Islam dengan tradisinya itu hingga saat ini masih tetap berjalan, meskipun dunia telah digoncangkan oleh peradapan modern dan laju teknologi yang kian memupuk tumbuh suburnya sekularisme dan materialisme. Bahkan tantangan itu dijawab oleh ummat Islam dengan meningkatkan pengetahuan agama dan pengamalannya selama bulan Romadhon.

 

Keistimewaan dan hikmah yang dikandung bulan Romadhon ternyata masih mampu memberikan pesona kepada ummat Islam untuk banyak berbuat kebaikan, hal ini sebenarnya sudah disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW. sebagaimana sabdanya :

لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانُ.

“Seandainya ummatku mengetahui (nilai yang terkandung) di dalam bulan Romadhon, niscaya mereka berharap agar sepanjang tahun dijadikan bulan Romadhon.’’

 

Kiasan yang halus tersebut kemudian ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW. bahwa selama bulan Romadhon Allah membuka pintu-pintu syurga lebar-lebar dan menutup rapat pintu-pintu neraka dan membelenggu tangan-tangan syetan. Sebagaimana sabdanya :

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ وَنَادٰى مُنَادٍ : يَابَاغِيَ الْخَيْرِ هَلُمَّ وَ يَابَاغِيَ الشَّرِ أَقْصِرْ.

“Apabila telah masuk bulan Romadhon dibukalah pintu-pintu syuga dan dikunci semua pintu neraka sedangkan syetan-syetan di belenggu (diborgol). Dan Malaikat berseru : “Wahai ahli kebaikan, kemarilah kalian!” Wahai ahli kejahatan, hentikanlah kejahatan kalian!”

 

Karena itu bulan Romadhon harus dijadikan peluang emas oleh orang-orang sholeh untuk meningkatkan amalnya dan bagi para pendosa (orang yang banyak dosa) untuk berhenti dan bertobat dari kemaksiatannya.

 

Kaum muslimin diperintahkan berpuasa pada siang hari Romadhon sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari, sedangkan malam-malamnya untuk mendirikan sholat dan berdo’a.

 

Lebih-lebih di bulan Romadhon terasa adanya kemudahan dan semangat untuk melakukan amal-amal kebaikan melebihi bulan-bulan yang lain. Sebab di bulan Romadhon para Da’i dan Muballigh sangat antusias mengajak ummatnya untuk beramal sholeh, memperbanyak ibadah dan memperhalus perilaku dengan akhlaqul karimah. Disamping itu hawa nafsu yang biasanya menjadi penyebab kemalasan beribadah pada bulan Romadhon terpenjara oleh rasa lapar dan dahaga. Dengan kata lain di bulan suci Romadhon tidak ada alasan bagi orang Islam untuk berbuat dosa. Orang-orang yang tidak puasa  justru akan merasa terasing dari jama’ah kaum Muslimin. Mereka hanya bisa makan secara sembunyi-sembunyi dan malu-malu, kecuali bagi orang-orang yang memang sudah tidak punya rasa malu. Sebagaimana sabda Nabi Saw. :

اَلْحَيَاءُ وَاْلإِيْمَانُ قُرَنَاءُ جَمِيْعًا، فَإِذَا أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ.

“Rasa malu dan iman itu merupakan dwi tunggal yang tidak terpisahkan, apabila salah satu dilenyapkan maka lenyaplah pula yang lainnya.’’

 

Maka sudah selayaknya jika setiap Muslim menjadikan bulan yang penuh berkah ini sebagai kehidupan baru, keimanan baru, semangat dan gairah yang baru pula supaya dapat merasakan kebesaran dan keindahan bulan Romadhon, sekaligus menikmati hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.

 

 

 

   

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Oktober 9, 2011 in Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh

 

Komentar telah ditutup

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.