Keseimbangan Matematika Dalam Al-Quran
Keseimbangan Matematika Dalam Al-Quran
Penulis : Abah Salma Alif Sampayya
Tebal : viii+507
Ukuran : 20,5×13,5 cm
Harga : Rp. 59.000,00
Seperti halnya alam semesta yang diciptakan-Nya dalam keseimbangan yang menakjubkan, tanpa cacat,tanpa cela dan dalam ukuran yang tepat, demikian juga halnya dengan Al-Quran.
Al-Quran mengungkap kebenaran dirinya sendiri, salah satunya dalam bentuk keseimbangan matematika. Susunan Al-Quran yang terdiri dari 114 surat, 30 juz, 6236 ayat, 29 surat Fawatih dan 85 surat bukan Fawatih, 86 surat Makkiyah dan 28 surat Madaniyah, adanya 30 ayat Muqhatta’at, 78 huruf dalam 14 kombinasi ayat muqhatta’at dan adanya 30 bilangan yang disebut secara tegas dalam Al-Quran, semuanya menjadi bagian sistem pengamanan ( kriptografi ) tercanggih yang tidak ada satupun makhluk mampu membuatnya, apalagi menandinginya.
Demikian juga angka 0 ( nol) – cikal bakal revolusi ilmu pengetahuan, khususnya computer, ternyata disebutkan secara nyata dalam bentuk keganjilan komposisi kalimat Basmallah. Semuanya terbuka melalui sebuah public key ( kunci publik ) bilangan 19 seperti dinyatakan dalam surat Al-Muddatsir ayat 30-31. Dan rahasia keseimbangan semakin terbuka lebar ketika bilangan prima muncul dalam komposisi Al-Quran.
Bilangan-bilangan itu terus berhamburan mengungkapkan kebenaran Al-Quran yang pada akhirnya bermuara kepada Tauhid, bahwa Allah lah yang menurunkan Al-Quran dan memeliharanya dari campur tangan manusia melalui peranan bilangan sebagai tentara-tentara Nya yang tidak ada batas akhirnya.
About this entry
You’re currently reading “Keseimbangan Matematika Dalam Al-Quran,” an entry on Kertas Buram Seorang Pelajar
Published: 11.19.07 / 8pm
Category: Pustaka Islam
Tags: Keseimbangan Matematika Dalam Al-Quran
2 Comments
Januari 1, 2009
Pendidikan anak secara Islami
Mungkin kita pernah mendengar peribahasa Jawa yang berbunyi, “Kacang ora ninggal lanjaran” atau “Air mata tak akan jatuh jauh dari pipi”. Peribahasa tersebut memberikan pengertian bahwa sifat, tindak tanduk dan karakter seorang anak tidak akan jauh berbeda dari dan perilaku orang tuanya. Rasulullah bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya Yahudi atau Nasrani.
Habib Muhammad al-Baqier Ibn Sholeh Mauladawilah pernah menyatakan bahwa segala perilaku anak merupakan ekspresi dari masa muda sang orang tua. Semua perilaku orang tua akan ditiru oleh sang anak. Sebagaimana pendapat Habib Sholeh Ibn Ahmad Alaydrus bahwa orang tua tak hanya mewariskan kecerdasan tetapi juga kelemahan dan sifat buruk pada anaknya. Oleh karena itu Habib Muhammad al-Baqier menandaskan bahwa seseorang yang mengetahui akan hal tersebut meskipun masih berusia muda muda haruslah segera bertaubat. Karena hanya dengan bertaubat yang dapat menghalangi agar sifat-sifat buruk itu tidak menurun kepada keturunannya kelak.
(lagi…)
Juli 14, 2008
Hak-Hak Pendidikan Anak Dalam Islam
Rabu, 27 Juni 2007 13:11:33 WIB
HAK-HAK PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM
Oleh
Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Mahdi
Hak-hak yang harus dipenuhi supaya seorang anak muslim berada pada keadaan yang cocok untuk pendidikan Islam yang benar banyak sekali, kami akan meyebutkan di antaranya.
1. Memilih calon ibu yang baik, hal ini mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Lihatlah agama calon istri supaya engkau tidak celaka” [Muttafaqun alaihi]
2. Hendaknya kedua orang tua berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah agar berkenan memberi rezki anak yang shalih kepada keduanya.
“Artinya : Dan orang-orang yang berkata : “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa” [Al-Furqon : 74]
“Artinya : Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a” [Ali-Imran : 38]
(lagi…)
Juli 14, 2008