~Rajutan yang Kusut~
Bintang tak selamanya bercahaya, Matahari tak selamanya menyinari, bulan tak selamanya memutari bumi, tak selamanya bumi menopang makhluk didalamya, tak selamanya dunia beredar pada peredarannya…..
Ada masa dimana mereka semua bertasbih kepada Sang Pencipta, ada masa dimana mereka semua memanjatkan do’a suci kepada Sang Maha Agung, ada masa dimana mereka semua sujud penuh tangisan lirih nan syahduh memohon ampunan Sang Maha Penyayang…..
Terkadang manusia lengah akan itu semua, manusia lalai akan itu semua, manusia lupa akan itu semua, terkadang manusia bisa lebih licik dari hewan, manusia bisa lebih rendah dari hewan, manusia bisa lebih biadab dari hewan tak ayal itu semua karena tak adanya rajutan akhlak yang baik. Banyaknya lubang termakan rayap pada jiwa dan hati mereka.
Astaghfirullah…jika kita menyadari.. betapa kecilnya kita dibandingkan bintang.. betapa kecilnya bintang dibandingkan bulan…betapa kecilnya bulan dibandingkan matahari dan seterusnya.. masyaallah kita adalah yang paling kecil dan paling rendah dihadapNya, terkecuali hanya hamba hamba yang sempurna tatanan dalam jahitan akhlak, iman dan ketaqwaannya kepada Sang Khalik
Bisa kita bayangkan ketika kita harus lepas dari ini semua, dari kenyataan hidup dunia yang tidak kekal ini. Harus sendiri dalam segala hal, mampuhkah kita? Jika kita hanya bisa menyia-nyiakan waktu terbaik kita, ketika kita harus berdua dengaNya, bermesraan denganNya, berbagi waktu dan kesempatan denganNya, menjalin kisah cinta yang sangat indah denganNya. Saat dimana seorang hamba begitu dekat dan sangat dekatnya dengan Rabbnya.
Subhanallah, Maha Suci Engkau…ketika kesadaran kami datang, merugilah kita ketika pada saat itu kita akan menghadapNya, merugilah kita dimana saat itu hilanglah segala kemampuan kita.
Jika demikian dengan apa kita bisa merubah nasib kita, jika semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur dan basi melebu jadi satu dengan dzatnya. mau menunggu sampai kapan kita sadar? mau menunggu sampai kita mau sakaratul maut?
Sejenak kita merenung, bahwa segala yang kita miliki hanya titipan semata, yang sewaktu - waktu pemilik akan mengambilnya. Dan pada saat itu kita hanya bisa terdiam membeku tanpa bisa berbuat apa apa. Tatapan mata yang nanar penuh penyesalan, tanpa harus ada sepatah kata yang mampu terucap di awal dan akhir kejadian, begitu ironisnya, betapa malangnya kita, betapa sia-sianya kita, tak manfaat sedikitpun hidup kita. Tujuan hidup yang hampir tercapai harus rela terbengkalai, cita - cita yang tinggi harus rela kita hapus dari memory kita, Astaghfirullah….begitu meruginya kita sebagai manusia yang merupakan makhluk Tuhan yang berbeda dari makhluk ciptaanNya yang lain, yang paling diagungkan olehNya, dan yang sangat disayangi Baginda Rasulullah SAW. Sia sia segala perjuangan Beliau jika tahu akhir kisah ummatnya yang sangat ironis.
Wahai diri ini dan jiwa jiwa lainnya yang masih harus mengulang rajutan jiwanya sebagai persembahan nantinya kepada Allah SWT Maha dari segala Maha. Sempurnakanlah rajutan iman dan ketqwaan kita. Pergunakanlah alat dan bahan yang paling indah dari yang kita miliki, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang….
Persembahan bagi jiwa yang kusut….
Dari benang terindah yang aku miliki…..^_^
