Panti Asuhan Nurul Abyadh Online

Juni 13, 2008

Banyak Zakat = Makin Kaya

Diarsipkan di bawah: Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh — abdulcholik83 @ 8:01 am

Banyak Zakat = Makin Kaya

 

Pernah ngga loe mikir gini : apa Bill Gates, Soros, Oprah atau siapapun yang hobinya nyumbang gede banget ngga takut miskin ya?
Mereka nyumbang jauh diatas kewajiban zakat yang hanya 2,5%. Prosentase sumbangan mereka mencapai puluhan persen dari jumlah penghasilan mereka.
Mungkin banyak diantara kita yang mikir, gile beneeer… Sementara kita aja kadang-kadang ngeluarin zakat masih suka (pura2) lupa. Ini ada sekelompok orang yang gampang banget menghambur2kan uangnya buat nolongin orang lain. Dan mungkin malah mereka ngga pernah mendengarkan tentang konsep zakat sama sekali. Jadi apa ya kira motivasinya?
Karena gue ngga kenal mereka, jadi gue akan mencoba berhusnudzhon aja. Mungkin motivasi mereka simple aja, yaitu NOLONG ORANG LAIN yang sedang dalam kesulitan. Mungkin ketika mereka lagi lunch sambil ngeliat TV, mereka jadi ngga enak makannya ketika ngeliat berita yang nanyangin tentang kelaparan di Afrika. Mungkin ketika mereka lagi naik pesawat jet pribadi, mereka jadi ngga enak perasaannya ketika mereka ngeliat berita antre minyak tanah di Indonesia.
Selain motivasi, gue lebih tertarik sama satu fakta, yaitu NGGA ADA ORANG JADI BANGKRUT GARA2 SUKA NYUMBANG. Yang ada malah mereka jadi tambah kaya. Kok bisa gitu yah??? Kayanya ngga logis banget, ngga bisa dijelaskan oleh matematika. Logika kita kan selama ini selalu ngajarin kalo kita nyumbang berarti ada kekayaan kita yang keluar. Kalo di akuntansi berarti ada pengurangan sisi aktiva. Makin banyak nyumbang berarti aktiva kita semakin berkurang dan itu ngga bagus kalo menurut itung2an logis.
Tapi kok kenyataannya orang2 beken diatas makin kaya aja ya. Mereka selalu masuk daftar orang terkaya versi majalah ekonomi. Apa rahasianya di balik fakta ini ya?
Ternyata mereka memang pantas jadi orang super kaya, karena mereka ngerti banget ilmu kekayaan itu. Mereka paham ada satu hukum yang selalu bekerja pada setiap orang, yaitu Law of Attraction (Hukum Tarik Menarik). Hukum ini bekerja secara pasti dan konsisten seperti hukum gravitasi. Mereka ngerti banget bahwa semakin banyak harta yang mereka sumbangkan akan menarik lebih banyak lagi rezeki atau kekayaan bagi mereka. Mereka ngerti banget bahwa semakin banyak mereka menyumbang, mereka akan semakin merasakan kondisi selalu kelebihan rezeki dan menurut hukumnya nih mereka akan selalu menarik kelebihan rezeki tersebut. Bahkan kalo menurut film Kun Fayakuun kalo loe ngeluarin zakat 10% dari penghasilan loe, maka loe akan dapat rezeki 100% lagi.
So, ternyata ngga terlalu sulit ya jadi orang kaya, rahasianya cukup simpel yaitu BANYAKIN ZAKAT. Jadi mulai sekarang berlomba2lah dalam berzakat. Kalau di luar rumah loe ngeliat pengemis, anak yatim piatu, tukang becak dll buruan deh loe samperin sambil loe zakatin, karena mereka itu investasi loe baik di dunia maupun di akherat.

Nasehat Bagi Wanita yang Terlambat Menikah

Diarsipkan di bawah: Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh — abdulcholik83 @ 7:59 am

Nasehat Bagi Wanita yang Terlambat Menikah

 
Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya:
Saya ingin meminta saran kepada syaikh bahwa saya dan teman - teman senasib telah ditakdirkan untuk tidak merasakan nikmat nikah, sementara umur hampir menginjak masa putus harapan untuk menikah. Padahal Alhmadulillah saya dan teman - teman senasib memiliki akhlak yang cukup dan berpendidikan sarjana dan inilah nasib kita, Alhamdulillah. Yang membuat kaum lelaki tidak mau melamar kita disebabkan kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena pernikahan di daerah kami dibiayai oleh kedua mempelai. Saya memohon nasehat syaijh untuk kami ?
   
Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya:
Saya ingin meminta saran kepada syaikh bahwa saya dan teman - teman senasib telah ditakdirkan untuk tidak merasakan nikmat nikah, sementara umur hampir menginjak masa putus harapan untuk menikah. Padahal Alhmadulillah saya dan teman - teman senasib memiliki akhlak yang cukup dan berpendidikan sarjana dan inilah nasib kita, Alhamdulillah. Yang membuat kaum lelaki tidak mau melamar kita disebabkan kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena pernikahan di daerah kami dibiayai oleh kedua mempelai. Saya memohon nasehat syaijh untuk kami ?

Jawaban:
Nasehat saya untuk yang terlambat menikah hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dengan penuh harapan dan keikhlasan, dan mempersiapkan diri untuk siap menerima lelaki yang shalih. Apabila seseorang jujur dan sungguh-sungguh dalam do’anya, disertai dengan adab do’a dan meninggalkan semua penghalang do’a, maka do’a tersebut akan terkabulkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. (Al-Baqarah : 186).
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Ku-perkenankan bagimu. (Al-Mukmin : 60).

Dalam ayat tersebut Allah menggantungkan terkabulnya do’a hamba-Nya setelah dia memenuhi panggilan dan perintah-Nya. Saya melihat, tidak ada sesuatu yang baik kecuali berdo’a dan memohon kepada Allah serta menunggu pertolongan dari-Nya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Ketahuilah sesungguhnya pertolongan diperoleh bersama kesabaran dam kemudahan selalu disertai kesulitan dan bersama kesulitan ada kemudahan.

Saya memohon kepada Allah untuk kalian dan yang lainnya agar dimudahkan oleh Allah dalam seluruh urusannya dan semoga segera mempertemukan kalian dengan laki-laki yang shalih yang hanya menikah untuk kebaikan dunia dan agamanya.

Dikutip dari : Fatawal Mar’ah hal. 58

 

4 TANDA PRIA SIAP MENIKAH DAN 4 TANDA TAK SIAP

Diarsipkan di bawah: Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh — abdulcholik83 @ 7:58 am

4 TANDA PRIA SIAP MENIKAH DAN 4 TANDA TAK SIAP

www.planetcinta.com/ www.duniamusik.com

Pria dan pernikahan - pernahkah Anda merasa begitu sulit menyatukan dua hal
ini ? Jika saat ini Anda tengah berusaha agar kekasih Anda bersedia
berkomitmen, ada kabar baik dan kabar buruk yang perlu diketahui. Kabar
baiknya, Anda bisa berhenti bersikap manis agar ia segera melamar. Sedang
kabar buruknya adalah tak ada yang bisa kita lakukan untuk mempercepat
prosesnya. Pria memiliki jam biologis sendiri, ketika mereka sudah siap,
tanpa diminta mereka akan berlutut melamar Anda. Jadi sambil menunggu, Anda
bisa meyakinkan dirinya bahwa Anda adalah orang yang paling tepat untuk
dijadikan pasangan hidup. Atau kalau mau, Anda juga bisa mencari orang yang
tidak perlu diyakinkan.

Carie dkk di serial Sex and the City pernah membuat persamaan antara pria
yang siap menikah dengan taksi. Pada satu titik dalam hidupnya, pria akan
siap untuk mengikatkan diri dalam sebuah komitmen. Ketika lampu “available”
menyala, maka wanita yang menjadi kekasihnya bisa masuk dan melaju dalam
pernikahan. Lalu bagaimana kita tahu bedanya pria yang “lampunya menyala”
dengan yang sedang menyetir dalam gelap ?

Hari bersenang-senang telah berakhir

Menurut John Malloy, penulis buku Why Men Marry Some Woman and Not Others,
yang didasarkan pada survey yang dilakukannya pada 2500 pria, saat seorang
pria siap menikah, kehidupan lajang sudah tidak lagi menarik untuknya.
Malloy mewawancara pria berusia 17-70 tahun yang sedang berencana menikah;
mereka mengaku mulai kehilangan minat mengunjungi klub, cafe atau bar yang
selama ini menjadi tempat favoritnya.

Mandiri secara finansial

Meski pria juga memiliki jam biologis tetapi waktunya tidak sama dengan yang
terjadi pada wanita. Kebanyakan pria lebih fokus untuk sampai pada kondisi
mapan secara finansial sebelum berkeluarga. Jika ia masih berjuang atau
kewalahan memenuhi kebutuhan pribadinya, ia tidak akan mau menambah bebannya
dengan kehadiran seorang istri. Bila Anda berharap segera menikah, yang Anda
butuhkan adalah pria dewasa ; seseorang yang bisa diandalkan, yang mampu
menghidupi dirinya tanpa bantuan keluarga. Meski si dia tidak kunjung
melamar, paling tidak ia mau diajak bicara tentang komitmen atau konsep
hidup berkeluarga.

Ingin menjadi Ayah

Perhatikan sikapnya,bisa jadi ia memandang anak-anak dengan tatapan rindu
dan mulai sering berkata kalau suatu hari nanti Anda pasti memiliki anak
yang cantik. Jika pasangan Anda bukan pria yang suka berterus terang, coba
simak apa kata John Malloy, “kebanyakan pria ingin punya anak pada usia muda
agar ia bisa mengajarkan anak-anaknya memancing, bermain bola dan aktivitas
laki-laki lainnya”.

Dari survey yang dilakukan Malloy, ditemukan fakta bahwa usia bisa menjadi
salah satu faktor bagi pria untuk segera menikah. Pria berpendidikan
tinggi, biasanya tidak melihat pernikahan sebagai sesuatu yang serius sampai
mereka berusia 26 tahun. Dan mereka akan masuk pada tahap membutuhkan
komitmen di usia 28 sampai 33 tahun. Pria dengan jenjang pendidikan yang
memakan waktu lama seperti dokter atau pengacara, berada di puncak kebutuhan
pada usia 30 - 36 tahun. Tetapi masih menurut Malloy, ketika pria masih
melajang di usia 37, kemungkinan ia akan menikah menjadi kecil. Dan setelah
berusia 43, mungkin ia akan memutuskan untuk melajang selamanya.

Status pacar tetapi bersikap seperti suami

Ketika seorang pria sudah siap menjadi suami, ia akan bertingkah layaknya
seorang suami. Misalnya ia membuat rencana masa depan, memperkenalkan Anda
kepada teman-teman dan keluarganya, tidak hanya menelepon setiap hari tetapi
juga bercerita aktivitasnya hari ini secara detail dan ingin mendengar hal
yang sama dari Anda. Singkatnya, ia bersikap jujur dan terbuka.

Bila Anda tidak yakin dengan perhatian pasangan Anda, perhatikan tingkah
lakunya, dan yang terpenting pandangannya terhadap masa depan. Jika ia
berjanji menikahi Anda tetapi tidak menyebutkan waktu, atau ia sering
menghindar bilamana Anda mulai menyinggung topik masa depan, tampaknya
kemungkinan Anda untuk naik pelaminan bersamanya sangat kecil. Tetapi jangan
cuma mengira itu karena ia belum siap. Berterus teranglah kepadanya dan
sampaikan perasaan Anda, sehingga Anda bisa tahu dimana posisi Anda dalam
hidupnya. Jika ia tidak siap, maka tidak ada yang bisa mengubahnya. Untuk
kasus seperti ini, ada baiknya Anda berpikir ulang. Apakah Anda masih ingin
menunggunya ?

Ia tidak siap menikah bila :

- Sering mengatakan tidak ingin diikat dalam tali perkawinan
Daripada membuang waktu untuk mengubah pikirannya, percaya padanya dan
segera angkat kaki.

- Membeli mobil baru
Atau barang-barang mewah lainnya yang tidak mencerminkan kebutuhan masa
depan. Jika ia tidak dewasa dan tidak bertanggung jawab dalam mengatur
keuangannya, maka pola pikirnya masih ’saya’, bukan ’kita’.

- Menyebut temannya yang sudah menikah “pecundang”
Jika ia ingin memiliki pasangan hidup, ia akan melihat pria dan wanita yang
membangun masa depan bersama sebagai suatu hal yang indah, bukan sebaliknya.

- Sering membuat Anda menangis
Dan itu bukan air mata bahagia. Jika ia tidak dapat dipercaya, sering
berdusta, punya banyak Teman Tapi Mesra, lebih baik ’bercerai’ sekarang
daripada di pengadilan.

Tulisan ini dikopi dari http://www.untuksemua.com/lounge/4-tanda-pria-siap-menikah-dan-4-tanda-tak-siap-1716/

Kenapa Saya Harus Menikah

Diarsipkan di bawah: Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh — abdulcholik83 @ 7:55 am

 

 

 Written by Yudi Wahyudi   

 

Thursday, 15 May 2008 13:40

 

Kenapa Saya Harus Segera Nikah ?!

Cinta dan menikah memang bahasan yang sangat menarik. Jangankan anak muda, yang tuapun masih berminat mengulangi masa-masa indah saat mengucapkan akad. Acara seminar dan sejenisnya pasti dipadati pengunjung jika temanya tentang nikah dan seputarnya. Itulah yang terjadi ditataran teori, hampir semua orang tertarik dengan masalah cinta dan nikah. Siapa yang tidak mau nikah? Hampir tidak ada yang tidak ingin menikah. Belum siap menikah? Inilah salah satu alasan mayoritas pemuda menunda dan menunda lagi pernikahannya. Ada seribu satu alasan yang biasanya dikemukakan oleh banyak pelajang. Tapi satu hal yang mungkin sulit diungkap; takut. Hampir tidak ada yang memberi alasan menunda nikah karena takut. Tidak pas rasanya kalau hanya sekedar menyalahkan orang-orang yang takut menikah, kita berbaik sangka saja mungkin mereka punya setumpuk alasan pendukung. Tapi ada satu pertanyaan, mengapa harus takut menikah? Bukankah menikah itu ada keutamaannya? Bukankah nikah itu ibadah yang begitu agung? Secara fitrah manusia punya keterarikan dan cinta dengan lawan jenis. Lelaki tertarik pada wanita dan wanita suka pada lelaki adalah hal wajar dan sah-sah saja. Allah ta’ala berfirman,

 

”dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada syahwat(apa-apa yang diingini) yaitu: wanita-wanita dan anak-anak…”(Ali Imran:14).

Karenanya dalam agama kita tidak disyariatkan prilaku membujang atau yang biasa disebut dengan istilah rahbaniyah; yaitu mengkonsentrasikan diri beribadah dengan meninggalkan keduniaan termasuk tidak menikah. Justru dalam Islam ditegaskan bahwa menikah bisa menjadi sesuatu yang bernilai ibadah. Itulah sebabnya Allah memberikan dorongan kepada para manusia untuk menikah. Begitu pula Rasulullah selalu memotivasi ummatnya untuk segera menikah jika sudah memiliki kesanggupan. Allah ta’ala berfirman,

”…maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Jika kamu takut tidak sanggup berlaku adil, maka (nikahilah) satu saja…” (an-Nisa: 3).

Satu hal yang harus kita yakini adalah jika Allah memerintahkan sesuatu pasti mengandung kebaikan dan manfaat. Para ulama kita sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan termasuk dalam tulisan-tulisan mereka tentang alasan kenapa menikah sebagai sebuah keutamaan di antaranya:

Pertama, Mengikuti perintah Allah dan RasulNya.
Dengan menikah, berarti seorang muslim telah melaksanakan perintah Allah sekaligus meniti sunnah RasulNya. Ayat di atas begitu jelas menunjukkan perintah Allah kepada hambaNya untuk menikah. Rasulullah pun disamping menikah beliau pun menyemagati ummatnya untuk nikah.

Sabdanya, ”wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian memiliki kesanggupan untuk menikah, maka segeralah menikah..”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian akankah kita menjadi pemuda yang sudi menjawab ajakan Allah dan RasulNya? Bahkan andai pun kita sudah tidak mudah lagi, kita tetap harus menyambut seruan Allah dan RasulNya di atas

Kedua, Menjaga Insting Seks Ini alasan menikah yang sangat mendasar, yang pasti dorongan yang satu ini terasa paling dominan dibanding dorongan yang lain. Sudah dari sananya manusia tertarik dengan lawan jenisnya dan ketertarikan ini salah satunya adalah dorongan untuk menyalurkan kebutuhan seks.

Allah ta’ala berfirman, ”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYa ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”(Ar-Ruum: 21)

Keempat, Menyempurnakan Separuh Agama
. Dengan menikah sesorang telah menyempurnakan separuh agamanya. Untuk itu menikah perlu dilakukan dengan benar dan hati-hati. Pilihan istri shalihah adalah tuntutan sehingga sabada Rasulullah bisa lebih terealisasi guna menyempurnakan yag separuhnya lagi.

Beliau bersabda, ”jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain” (HR. Al-Baihaqi).

Kelima, Menjaga Kesehatan. Dalam sebuah penelitian ilmiah ditemukan manfaat pernikahan bagi kesehatan. Data yang diambil sejak tahun 1958 hingga tahun berikutnya menunjukkan bahwa orang menikah hidup lebih lama ketimbang yang tidak menikah atau berceai. Perbandingan pasutri (pasangan suami istri) pun lebih sedikit dibandingkan orang yang melajang didasarkan pada perbedaan umur. Dr. Halfbert, direktur sebuah rumah sakit di kota New York AS menunjukkan data bahwa pasien yang datamg ke rumah sakitnya mempunyai perbandingan empat lajang dan satu menikah. Jadi?

Keenam, Mendapat Hiasan terbaik. Hidup di dunia akan terasa lebih hidup dengan pasangan (tentu pasangan yang sah) dan dunia ini begitu gersangnya tanpa ada ”teman” yang mendampingi. Karena itu pernikahan adalah sarana terbaik untuk mendapatkan hal itu. Dengan menikah seorang telah menggabungkan nikmat dan bahagia sekaligus. Lebih-lebih lagi jika seseorang memperoleh istri yang shalihah, maka ia telah memetik bunga kehidupan yang terindah.

Rasul kita bersabda, ”Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah ” (HR. Muslim).

Ketujuh, Menampik Godaan Syaithan. Salah satu senjata syaithan adalah menyalah gunakan ketertarikan fitrah laki-laki dan wanita. Syaithan mengerti betul bagaimana ketertarikan laki-laki pada wanita begitu juga sebaliknya. Maka perhatikanlah media yang banyak menyuguhkan sampul model perempuan bahkan untuk melariskan dagangan pun wanita pasti menjadi penghias. Jangankan wanita jalang yang lalu lalang di jalan, ”akhwat” pun bisa jadi dewi penggoda dengan bantuan syaitan. Hal tersebut bisa diredam dan diarahkan dalam saluran yang aman bernama menikah. Rasulullah menggambarkan godaan syaithan kepada para lelaki dalam bentuk wanita,

beliau bersabda, ”Wanita jika menghadap seakan-akan dalam bentuk syaithan. Begitu juga jika ia membelakangi. Andai di antara kamu tertarik dengannya hendaklah ia bersandar pada istrinya dan menggaulinya. Sebab yang demikian itu lebih menentrmkan jiwanya ” (HR. Muslim). Kedelapan, Sarana Mendapat Pertolongan Allah Pertolongn Allah adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh setiap Muslim. Pertolongan adalah pertanda perhatian Allah pada kita. Siapa yang ingin punya peluang besar agar ditolong salah satu di antara dengan menikah. Dalam hadits disebutkan, ”Ada tiga golongan yang pasti ditolong Allah; yaitu budak yang ingin memerdekakan diri, orang yang menikah demi menjaga diri dari maksiat dan para mujahid fi sabilillah ”(HR. At-Tirmizi)

i Ternyata menikah banyak sekali manfaatnya. Sebagai seorang muslim, dengan berbagai kekurangan dan kelemahan tidak pantas kita mengabaikan begitu saja manfaat tersebut. Mari tumbuhkan motivasi, ukir keberanian menyambut seruan Allah dan RasulNya untuk menikah. Para shahabat yang kebanyakannya miskin harta namun kaya iman, begitu semangat untuk menikah demi mengikuti sunnah Rasulullah. Ibnu Mas’ud, salah satu di antara shahabat terkemuka Rasulullah pernah berkata, ”Sekali pun usiaku tinggal sepuluh hari, aku lebih suka menikah agar diriku tidak membujang tatkala bertemu Allah.” Di tengah perkembangan media yang mengglobal diiringi gempuran budaya serba boleh maka tuntutan menikah sangat menguat. Jangan sampai rayuan dewi penggoda membuat kita terlena dalam kenikmatan sesaat. Karenanya pilihlah kenikmatan hakiki dengan menikah yang di dalamnya ada dua hal yang memanjangkan usia ”psikologis” kita; nikmat dan bahagia. Nah, jangan di tunda-tunda

 

Artiekl ini dikopi dari http://www.belajarislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=190:kenapa-saya-harus-menikah&catid=30:belajar-mengamalkan&Itemid=41

 

Mei 13, 2008

Ayah, Bolehkah Berpacaran?

Diarsipkan di bawah: Buletin Panti Asuhan Nurul Abyadh — abdulcholik83 @ 9:21 am

Ayah, Bolehkah Berpacaran?

Karya : Abu Aufa

tentang-pernikahan.com - ABSTRACT:
Mungkin ada diantara kita selaku orangtua yang tidak mampu bersikap tegas dalam menyampaikan ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan psikoseksual remaja. Kita ‘malu’ menyampaikan kebenaran, padahal itu adalah kewajiban kita untuk menyampaikannya dan hak mereka untuk mengetahuinya. ‘Ayah, bolehkah berpacaran?’ mungkin salah satu pertanyaan yang lambat laun akan menyergap kita. Salah satu jawaban yang cerdas, memuaskan dan tepat, mungkin dapat kita simak dari artikel di bawah ini.

Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk memberikan yang terbaik kepada putra-putri kita, yaitu pendidikan yang baik dan adab yang mulia.
——————————————————————

Seorang ayah, bila ia mempunyai putra yang beranjak remaja, lambat atau cepat ia akan disergap oleh pertanyaan seperti ini: ‘Ayah, bolehkah berpacaran?’ Pengertian ‘berpacaran’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bercintaan, berkasih-kasihan.

Sebagai Ayah yang baik, kita sudah seharusnya sejak jauh hari berusaha menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tak terduga

(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.